Lima Juta per RW untuk Gen Z Surabaya, Karang Taruna Dorong Anak Muda Jadi Penggerak Ekonomi Kampung

  • 22 September 2026
  • 0 Like
  • Dinsos Jatim

SURABAYA - Karang Taruna Kota Surabaya menyambut positif program modal usaha sebesar Rp5 juta per RW yang didorong Pemerintah Kota Surabaya sebagai peluang bagi Generasi Z  untuk bergerak, berkarya, dan membangun kemandirian ekonomi di tingkat kampung.

Ketua Karang Taruna Kota Surabaya, Febryan Kiswanto, yang akrab disapa Cak Febri, menilai program tersebut tidak semestinya dipandang sebatas bantuan modal. Lebih dari itu, dana tersebut dapat menjadi pintu masuk bagi anak muda untuk mengembangkan potensi, membangun usaha, sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru.

“Jangan melihat Rp5 jutanya, tetapi lihat kesempatan besarnya. Modal itu hanya pemantik. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana anak muda mampu mengubah kesempatan tersebut menjadi usaha, penghasilan, bahkan lapangan pekerjaan baru,” ujar, Senin (21/9/2026).

Menurutnya, modal Rp 5 juta per RW memang tidak serta-merta menyelesaikan persoalan pengangguran. Karena itu, pemanfaatannya perlu diikuti dengan ekosistem pendukung agar usaha yang dibangun anak muda dapat tumbuh dan berkelanjutan.

“Setelah ada modal, harus ada pendampingan, pelatihan, akses pasar, bahkan koneksi dengan dunia usaha. Jangan sampai program berhenti pada penyerapan anggaran. Harus ada keberlanjutan dan dampak nyata bagi kehidupan anak muda,” tegasnya.

Bagi Karang Taruna, keberadaan program berbasis RW juga membuka ruang bagi pemuda untuk melihat lebih dekat potensi ekonomi di lingkungan masing-masing. Setiap kampung memiliki karakter, kebutuhan, kreativitas, dan peluang yang berbeda sehingga anak muda dapat mengembangkan usaha sesuai dengan potensi yang dimiliki wilayahnya.

Terlebih, Gen Z tumbuh di tengah perkembangan teknologi digital. Kemampuan memanfaatkan media sosial, membangun jejaring, dan membaca tren dapat menjadi modal tambahan untuk memperkenalkan sekaligus memperluas pemasaran produk yang mereka kembangkan.

Pandangan tersebut sejalan dengan Ketua Bidang Medsos dan Pengembangan IT PKTP Jawa Timur, Muhammad Ma’mun Murod. Menurutnya, Gen Z perlu ditempatkan sebagai aktor yang ikut menggerakkan perubahan sosial dan ekonomi, bukan hanya sebagai penerima program.

“Gen Z jangan ditempatkan hanya sebagai objek pembangunan. Mereka adalah generasi digital yang memiliki kreativitas, keberanian, jejaring, dan kemampuan membaca peluang. Ketika modal dipadukan dengan pendampingan, teknologi, pemasaran digital, dan ekosistem usaha, maka Rp5 juta bukan sekadar angka, tetapi bisa menjadi titik awal lahirnya kemandirian ekonomi dari kampung,” katanya.

Ma’mun menilai kekuatan program berbasis RW terletak pada kedekatannya dengan masyarakat. Ruang tersebut dapat dimanfaatkan anak muda untuk mengenali persoalan sekaligus potensi di lingkungannya, kemudian mengolahnya menjadi aktivitas ekonomi yang produktif.

Semangat itu sekaligus memperkuat posisi Karang Taruna di tingkat kampung. Organisasi kepemudaan tersebut dapat menjadi ruang untuk menghimpun potensi anak muda, mempertemukan gagasan, sekaligus mendorong mereka agar tidak berhenti sebagai penerima manfaat.

“Yang kita bangun bukan hanya usaha, tetapi mentalitas. Dari penerima menjadi pelaku, dari pencari kerja menjadi pencipta peluang, dan dari kampung menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru. Di sinilah Karang Taruna harus hadir sebagai penggerak,” tambah Ma’mun.

Melalui peran tersebut, Karang Taruna Kota Surabaya mendorong agar program modal usaha juga menjadi ruang belajar bagi anak muda. Mulai dari menyusun perencanaan usaha, mengelola modal, membangun jejaring, memanfaatkan teknologi digital, menciptakan produk bernilai tambah, hingga memperluas pemasaran.

Febryan mengatakan Karang Taruna siap mengonsolidasikan potensi pemuda di setiap kampung agar peluang yang tersedia dapat dimanfaatkan secara produktif.

“Kita akan bergerak mengkonsolidasikan seluruh potensi pemuda di setiap kampung menjadi pelaku utama penggerak roda kota. Karena masa depan Surabaya tidak hanya dibangun dari atas, tetapi juga dari kreativitas dan keberanian anak-anak muda di setiap RW,” pungkas Febryan.

Pada akhirnya, bagi Karang Taruna, Rp5 juta bukanlah tujuan akhir. Yang lebih penting adalah bagaimana kesempatan tersebut mampu mendorong lahirnya kreativitas, usaha baru, kemandirian ekonomi, dan peluang kerja yang tumbuh dari lingkungan kampung.(mun/qal)

Share the post